Saturday, 15 March 2014

DI ATAS SAJADAH ITU



Di tengah malam yang hening dengan masih di temani  oleh sinar purnama yang terang benderang seakan tidak hilang dalam kegelapan malam. Seorang terbangun dari tidurnya yang nyenyak dan terlelap seperti orang yang tidak mempunyai masalah yang membebani. Seorang pemuda itupun melihat jam menunjukkan pukul 12:30 dimana orang – orang disekitar sedang asyik dengan mimpinya. Keluarlah pemuda itu dari bilik bambu yang menjadi gubuk kehidupan baginya. Disaat tepat membuka pintu yang terbuat dari papan rapuh “ kreek, ngeek “ begitulah bunyi nada pintunya terbuka , terasa sekali semilir angin malam yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk menyejukkan hati terlihat di sekeliling rumah telah menutup pintu dan jendelanya namun geliat hewan malam masih terdengar bingar beradu siul menatap kegelapan. Berjalanlah pemuda itu mendekati pancuran air untuk sekedar mengambil wudhu terasa dingin dan sejuk air yang membasuh menelusur setiap kulit tangan dan muka. “aduhai segar sekali “ dalam hatinya berbicara.
Setelah segar mengambil wudhu, pemuda itu bergegas masuk kembali kedalam bilik kehidupannya. Di gelarnya sajadah itu bah tikar yang di gelar dalam kerajaan. Di serambi kamarnya lah seorang pemuda itu berdiri tegap menghadap kiblat, kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud, bibirnya bergetar melantunkan ayat – ayat suci al-quran hati dan seluruh gelagak jiwanya menyatu dengan tuhan seakan pasrah dengan yang maha kuasa. Di atas sajadah itu lah pemuda itu terus larut dalam samudera ayat ilahi. Setiap kali sampai pada ayat – ayat azab tubuh pemuda itu bergetar hebat, air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala – nyala di hadapannya, namun jika ia sampai pada ayat –ayat nikmat embun sejuk dari langit terasa mengguyur sekujur tubuhnya ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan.

1 comment: